Cegah Kekerasan Anak, Peran.Komunitas RT/RW Harus Diperkuat Sebagai Garda Terdepan

BANGKALAN, memo-pagi.com – 25 Desember 2024, Di sebuah sudut kampung Nangger Sattowan, kecamatan Kota Bangkalan, kabupaten Bangkalan terdapat kisah pilu yang tak seharusnya terjadi. Melati, seorang anak di bawah umur, menjadi korban kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan oleh neneknya sendiri, Surayah. Setiap hari, tangisan dan jeritan Melati menjadi saksi bisu atas penderitaan yang ia alami.

“Otak saya capek dimarahi terus,” ujar Melati dalam sebuah jeritan penuh kepedihan yang menyayat hati. Lebih dari sekadar kata-kata, jeritan itu adalah seruan akan pertolongan.
Kekerasan terhadap anak, baik fisik maupun verbal, merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. Anak adalah generasi penerus bangsa yang membutuhkan perlindungan, kasih sayang, dan bimbingan yang penuh empati.

Namun, apa yang terjadi pada Melati justru sebaliknya. Tindakan kekerasan yang ia alami tidak hanya melukai tubuhnya, tetapi juga merusak mental dan emosinya. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi dapat membekas hingga ia dewasa.

Sebagai seorang perempuan dan ibu, hati ini terasa hancur mendengar jeritan Melati setiap hari. Tidak ada anak yang seharusnya tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi dengan kekerasan. Peran keluarga, masyarakat, dan pemerintah sangat penting untuk memastikan anak-anak seperti Melati mendapatkan perlindungan yang layak.

Dalam hal ini, peran ketua RT sangat vital, kami meminta dengan sangat untuk segera turun tangan. Sebagai tokoh yang dihormati di lingkungan kampung Nangger Sattowan, sosok RT dapat menjadi garda terdepan dalam memberikan motivasi dan edukasi kepada keluarga Melati, khususnya kepada Sariyah. Edukasi tentang pentingnya perlindungan anak dan dampak buruk kekerasan fisik serta verbal harus segera dilakukan.

Kami juga mengajak seluruh warga untuk peduli terhadap lingkungan sekitar. Jangan pernah menutup mata terhadap kekerasan yang terjadi. Sebuah langkah kecil dari kita dapat membawa perubahan besar bagi masa depan seorang anak. Ingatlah, melindungi anak bukan hanya tugas orang tua, tetapi tanggung jawab bersama.

Melati dan anak-anak lainnya layak mendapatkan cinta dan perhccaatian, bukan caci maki atau kekerasan.

“Pak RT, kami berharap Anda dapat menjadi pelopor perubahan yang membawa harapan baru bagi Melati dan keluarga lainnya di kampung ini. Sudah saatnya kita bergerak bersama, menghentikan kekerasan terhadap anak, dan menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang.” Ungkap seorang wanita peduli kasih sayang.
(Wie)