JEMBER, memo-pagi.com – Di sebuah rumah sederhana di Desa Patempuran, Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember, sepasang suami istri, HW dan TA, hanya bisa menatap kosong sisa barang dagangan di toko kecil mereka. Raut lelah dan kecewa tak bisa disembunyikan. Harapan meraih keuntungan besar dari bisnis online yang semula tampak meyakinkan, kini berubah menjadi mimpi buruk.
Bukan hanya uang tabungan yang raib, modal usaha, harta benda, bahkan sapi ternak pun lenyap demi memenuhi permintaan operator aplikasi yang belakangan diketahui palsu. Total kerugian mereka mencapai Rp 45,16 juta.
Kisah tragis itu bermula ketika TA menerima pesan WhatsApp dari seseorang yang menawarkan peluang bisnis melalui aplikasi bernama ANTLER. Saat itu, TA sedang sibuk mengurus anak mereka yang masih kecil, sehingga ponselnya diserahkan kepada HW untuk melanjutkan komunikasi.
Awalnya, ajakan itu terdengar masuk akal. Operator aplikasi meminta HW mencoba transaksi kecil: transfer Rp500 ribu. Tak lama, saldo tersebut kembali ke rekeningnya, bahkan bertambah menjadi Rp650 ribu. Uang nyata, keuntungan instan.
Kejadian itu menumbuhkan kepercayaan. HW dan TA mulai yakin, inilah peluang besar untuk memperbaiki ekonomi keluarga mereka. “Waktu itu kami pikir ini jalan rezeki,” tutur HW dengan nada lirih.
Setelah percobaan pertama sukses, transaksi pun berlanjut. Uang Rp160 ribu dikembalikan menjadi Rp224 ribu. Namun pada transaksi berikutnya sebesar Rp4,4 juta, dana itu tidak pernah kembali. Meski demikian, operator terus meyakinkan HW dan TA bahwa sistem sedang bermasalah, dan mereka hanya perlu menambah saldo agar proses bisa berhasil.
Dengan penuh harapan, pasangan ini kembali mengikuti instruksi. Transfer kedua, ketiga, hingga keempat dilakukan dengan jumlah semakin besar. Salah satunya mencapai Rp20,6 juta. Namun hasilnya sama: nihil. Semua janji manis keuntungan berlipat hanya fatamorgana.
Harta Satu per Satu Melayang
Untuk memenuhi tuntutan transfer, HW dan TA rela mengorbankan apa saja yang mereka miliki. BPKB motor digadaikan, sapi ternak dijual, modal usaha toko dikuras habis, bahkan tabungan kecil dalam celengan pun dipecahkan.
“Dari gadai BPKB dapat Rp10 juta, jual sapi Rp13 juta, modal toko Rp17 juta, dan celengan Rp5 juta. Semua habis, tidak ada yang kembali,” ucap TA, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Kerugian total Rp45,16 juta bagi keluarga sederhana seperti mereka bukanlah angka kecil. Itu adalah hasil jerih payah bertahun-tahun yang lenyap dalam hitungan hari.
Kini, HW dan TA hanya bisa berharap agar identitas pribadi mereka yang sempat dikirimkan ke aplikasi ANTLER, terutama KTP, tidak disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk pinjaman online atau tindak kriminal lainnya.
Mereka juga memohon kepada Polres Jember agar segera menindaklanjuti kasus ini. “Kami mohon aparat bisa membantu, jangan sampai ada warga lain yang menjadi korban seperti kami. Untuk pemerintah desa, kami harap bisa memberi sosialisasi kepada masyarakat supaya tidak mudah percaya dengan aplikasi-aplikasi semacam ini,” ungkap HW penuh harap.
Sebuah Pelajaran untuk Kita Semua
Kisah HW dan TA adalah potret nyata bagaimana iming-iming keuntungan instan di dunia digital bisa menjebak siapa saja, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Rasa ingin bangkit, mencari jalan pintas untuk memperbaiki keadaan, justru dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab.
Di balik angka kerugian yang fantastis, tersimpan luka batin yang dalam: hilangnya rasa percaya, hancurnya harapan, dan trauma yang mungkin akan lama membekas.
Semoga kisah pilu pasangan HW dan TA menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk lebih berhati-hati, tidak mudah tergiur janji manis bisnis online yang belum jelas, serta selalu mengutamakan kewaspadaan. Karena sekali terjebak, bukan hanya uang yang hilang, tetapi juga mimpi dan masa depan keluarga juga melayang. (Red)