Krasela: Gelar Uji Batu Bertuah Yang Penuh Historis Estetika dan Spiritual Bagi Pecinta Batu Mulia

BANGKALAN, memo-pagi.com – Kota Bangkalan kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap warisan budaya Indonesia dengan menggelar acara unik yang memadukan hobi dan tradisi. Kraton Selatan (Krasela), sebuah komunitas pecinta batu akik di kota ini, sukses menyelenggarakan “Kontes Uji Tembak Batu Akik” menggunakan senapan angin pada Minggu pagi (29/6). Acara ini berlangsung di Jln Singosastro kampung kidul dalam RT 03.RW 07, Kelurahan Kraton, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, dengan dihadiri oleh tamu kehormatan Mohammad Cholil Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Kepang Bangkalan, yang turut serta menjadi saksi uji tembak tersebut.

Kontes ini bukan sekedar ajang kompetisi biasa, melainkan sebuah tradisi yang melibatkan 116 batu akik dari berbagai koleksi para peserta. Tidak hanya batu akik yang diuji, juga volume ketinggian air di dalam gelas dan jarak pergeseran gelas, dalam rangkaian kontes yang mendapatkan hadiah tropi piala 1 – 3 serta sertfikat, helm dan uang, sedangkan juara 4 – 5 mendapatkan Souvenir juga uang.

Sedangkan para juara:

  1. Septa Hari Murti jenis batu Jamal Kendit, dengan nomer peserta 94 jarak geseran gelas 1.97 in dan volume ketinggian air dalam gelas 73.3 mm
  2. Ari Hardianto jenis batu Birus Hitam, peserta no. 103 jarak gelas 2.09 in volume air 70.8 mm
  3. Adi Husada jenis batu Mustika Susu, peserta no. 79 jarak gelas 2.09 in volume air 70.4 mm
  4. Ustadz Aminullah Galih Kelor, peserta no.22 jarak gelas 2.12 in volume air 68.6 mm
  5. Psp Stigi jenis batu Galih Kelor, peserta no.90 jarak gelas 2.25 in volume air 66.5 mm.

Budiharjo, “Saya sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini. Ini menunjukkan bahwa di Kota Bangkalan, budaya dan warisan seperti batu akik masih dijaga dan dilestarikan,” ujar Budi sapaan akrabnya. Ia menambahkan bahwa ajang ini berpotensi mendatangkan wisatawan, terutama dari luar daerah, jika terus dikembangkan dan dilakukan secara rutin. Hal ini mengingat budaya lokal seperti batu akik kini semakin jarang diminati oleh masyarakat luas.

Budiharjo, juga mengungkapkan harapannya agar kontes uji tembak batu akik ini dapat menjadi agenda tahunan di Kota Bangkalan. “Melihat antusiasme peserta dari berbagai kalangan, seperti tokoh agama, tokoh pemuda dan masyarakat, saya yakin acara ini bisa menjadi daya tarik tersendiri. Mereka tidak hanya datang untuk berkompetisi, tapi juga membawa koleksi terbaik mereka untuk diuji di sini,” imbuhnya.

Salah satu daya tarik dari kontes ini adalah metode unik yang digunakan untuk menguji kekuatan batu akik. Ketua Panitia, Muzamil, menjelaskan bahwa setiap batu akik yang diikutkan dalam lomba harus melalui beberapa tahapan uji. Setelah peserta mendaftar, mereka harus memasukkan batu akik ke dalam gelas kaca yang berisi air, kemudian gelas tersebut ditembak menggunakan senapan angin.

Menurut Muzamil, batu akik yang memiliki kekuatan tertentu tidak akan pecah meski ditembak dengan senapan angin. “Jika gelas pecah, itu berarti batu akik gagal dalam uji kekuatan. Namun, jika gelas tetap utuh, batu akik akan masuk ke babak berikutnya. Bahkan, jarak bergesernya gelas juga dinilai untuk menilai kekuatan batu tersebut,” jelasnya.

Keunikan dari metode uji tembak ini menjadi salah satu alasan mengapa acara ini berhasil menarik perhatian banyak pecinta akik dari berbagai kalangan. Selain menguji kualitas fisik batu akik, kegiatan ini juga sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi para kolektor dan pecinta batu mulia.

Muzamil, Ketua Krasela yang juga menjabat sebagai Ketua RT.03 RW.07 Kelurahan Kraton, berharap agar acara seperti ini dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya tradisional Indonesia. Batu akik sendiri telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Nusantara, dengan berbagai nilai historis, estetika, dan spiritual yang terkandung di dalamnya.tuturnya kepada media ini.
(Wie)