Menanam Mimpi dari Lapangan Garuda, Turnamen Sepak Bola U-10 dan U-12 Desa Plalangan Jadi Wadah Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini

JEMBER, memo-pagi.com – Lapangan Garuda Desa Plalangan Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur tampak berbeda, kini menjadi saksi langkah-langkah kecil penuh semangat, sementara tawa polos dan sorak dukungan orang tua berpadu.

Di sinilah mimpi-mimpi anak-anak mulai dirangkai-bukan tentang piala semata, melainkan tentang keberanian, kebersamaan, dan harapan.Sabtu (10/01/2026).

Kepala Desa Plalangan, Sofyan Zulkarnain Malik, secara resmi membuka Turnamen Sepak Bola Usia Dini Kelompok U-10 dan U-12 di Lapangan Garuda.

Turnamen ini diikuti oleh 20 klub peserta, tidak hanya dari Kabupaten Jember, tetapi juga dari luar daerah seperti Banyuwangi dan Situbondo, menandakan semangat pembinaan sepak bola usia dini yang lintas wilayah.

Bagi Sofyan, sepak bola di usia dini bukanlah sekadar kompetisi. Di hadapan para pemain cilik, pelatih, dan orang tua, ia menegaskan bahwa lapangan sepak bola adalah ruang belajar yang jujur—tempat anak-anak mengenal kerja sama, disiplin, dan sportivitas sejak langkah pertama.

“Menang atau kalah itu biasa. Yang terpenting adalah prosesnya. Di lapangan ini anak-anak belajar berani, belajar menghargai teman dan lawan, serta belajar mematuhi aturan,” ujar Sofyan.

Ia menyebut kompetisi usia dini sebagai fondasi penting dalam membentuk mental atlet masa depan. Menurutnya, bibit-bibit unggul tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh dari lingkungan yang sehat, menyenangkan, dan penuh dukungan.

Turnamen ini pun menjadi ruang perjumpaan banyak cerita. Anak-anak dengan kaus kebesaran, sepatu yang mungkin baru pertama kali dipakai di turnamen, dan mata yang berbinar setiap kali bola bergulir.

Di pinggir lapangan, para orang tua tak henti memberi semangat—bukan sekadar berharap gol, tetapi menyaksikan anak-anak mereka belajar jatuh dan bangkit.

Sofyan berpesan kepada panitia, wasit, dan pelatih agar nilai kejujuran dan fair play dijaga sepenuh hati. Di kelompok usia U-10 dan U-12, katanya, kegembiraan harus menjadi tujuan utama.

“Biarkan mereka bermain dengan senang. Dari rasa senang itulah kecintaan pada olahraga tumbuh. Tugas kita membimbing, bukan menekan,” katanya.

Pembukaan turnamen ditandai dengan tendangan pertama oleh Sofyan di tengah lapangan. Tepuk tangan menggema, menandai dimulainya rangkaian pertandingan yang bukan hanya menguji teknik, tetapi juga karakter.

Di bawah sinar matahari pagi, sepatu-sepatu kecil itu kembali berlari. Setiap sentuhan bola adalah pelajaran, setiap peluit wasit adalah pengingat, dan setiap pelukan setelah pertandingan adalah bukti bahwa olahraga menyatukan lebih dari sekadar skor akhir.

Dari Lapangan Garuda, Desa Plalangan menanam harapan. Bahwa suatu hari, dari langkah-langkah kecil ini, akan lahir generasi yang tak hanya piawai mengolah bola, tetapi juga kuat secara mental, jujur dalam bertanding, dan berani bermimpi besar—di dalam maupun di luar lapangan.

Pewarta : didik