BANGKALAN, memo-pagi.com – Pondok Pesantren (PonPes) Hidayatulloh Al-Muhajirin, Serean Bawah Buduran, Kecamatan Arosbaya,Kabupaten Bangkalan menggelar upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 pada Minggu (17/8/2025). Upacara ini berlangsung khidmat dan penuh makna karena dipimpin langsung oleh Pengasuh Ponpes Hidayatulloh Al-Muhajirin, KH.Linul Qolbih Hamzah
Dalam amanatnya, KH. Linul Qolbih Hamzah menegaskan pentingnya santri untuk meneladani perjuangan para pahlawan. “Santri harus mencintai negeri ini, menjaga persatuan, dan berkontribusi untuk kemajuan bangsa. Belajar dengan sungguh-sungguh juga termasuk jihad di zaman sekarang,” ungkap beliau penuh semangat.
Dihadiri seluruh jajaran Pengasuh Pondok Pesantren, Dewan Guru, Dewan Asatidz, Para Santri SMPN-SMAN – SMKN, Tokoh Masyarakat Alibadai, Babinsa Koramil 0829-13/Arosbaya, Pelda Supriaji dan Serka Sudarno, Tokoh Agama dan Tokoh Pemuda, hingga masyarakat sekitar turut hadir dan mengikuti upacara dengan penuh antusias.
Prosesi berjalan lancar, mulai dari pengibaran bendera sang saka merah putih, pengibaran bendera nahdhatul ulama’, pembacaan teks proklamasi, hingga mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawan.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, para santri menampilkan drama perjuangan yang menggambarkan semangat kepahlawanan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Drama ini berhasil memukau hadirin dengan akting penuh penghayatan, sekaligus memberi pesan moral tentang pentingnya menjaga persatuan dan nasionalisme.
Salah satu Tim Paskibraka bernama Nibros Sakhy M kelas 10,Mengaku bangga bisa mengikuti upacara bersama pengasuh pesantren. “Rasanya berbeda sekali ketika dipimpin langsung oleh KH. Linul Qolbih Hamzah bersama ibu Nyai Hj. Elok Fauziah Kami jadi semakin termotivasi untuk berjuang, meskipun sebagai santri perjuangan kami lewat belajar dan beribadah,” ujarnya dengan semangat.
Suasana haru dan bangga menyelimuti acara, menjadikan peringatan 17 Agustus di Ponpes Hidayatulloh Al-Muhajirin tahun ini bukan hanya sebagai upacara seremonial, tetapi juga momentum refleksi untuk memperkuat semangat cinta tanah air di kalangan santri.
(Wie)