JEMBER, memo-pagi.com — 9 Oktober 2025, Sebuah kisah pilu kembali mencoreng wajah pelayanan kesehatan di Kabupaten Jember.
Datang dari pelosok Dusun Perbalan, Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, seorang ibu rumah tangga bernama Wasilah (48) harus menanggung derita bukan hanya karena penyakit yang dideritanya, tetapi juga karena penolakan saat hendak berobat ke Puskesmas Silo 2.
Kisah memilukan ini terjadi pada Rabu petang (8/10/2025) sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, Fahri, suami Wasilah, dengan panik membawa sang istri ke Puskesmas Silo 2.
Tubuh Wasilah yang lemah akibat serangan asam lambung akut tiba-tiba ambruk di atas kendaraan. Nafasnya tersengal, wajahnya pucat, dan matanya mulai terpejam.
Dalam kondisi genting seperti itu, mereka berharap pertolongan cepat dari fasilitas kesehatan terdekat.
Namun, harapan itu seolah pupus seketika. Bukannya mendapatkan penanganan, mereka justru mendengar jawaban yang menyesakkan dada. Salah seorang perawat menyampaikan bahwa ruangan penuh, sehingga mereka tidak bisa menerima pasien tambahan.
“Saya benar-benar kecewa. Istri saya sudah pingsan di atas motor, tapi kami malah disuruh mencari tempat lain. Tidak ada upaya sedikit pun untuk menolong sementara. Rasanya sangat menyakitkan,” ujar Fahri dengan suara bergetar saat ditemui wartawan.
Dalam situasi panik dan haru, Fahri tak menyerah. Ia kembali melajukan kendaraannya ke Puskesmas Silo 1 yang jaraknya cukup jauh, dengan harapan masih ada kesempatan untuk menyelamatkan istrinya.
Sesampainya di sana, meski kondisi ruangan juga padat, petugas kesehatan di Puskesmas Silo 1 tetap menyambut dengan cepat dan sigap. Mereka segera memberikan pertolongan pertama kepada Wasilah.
“Alhamdulillah, di Silo 1 langsung ditangani. Kalau saja saya terus ditolak, saya tidak tahu bagaimana nasib istri saya. Masih ada orang-orang baik yang peduli,” tutur Fahri menahan air mata.
Kejadian ini sontak menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Banyak warga menilai bahwa alasan “ruangan penuh” tidak seharusnya menjadi tameng untuk menolak pasien, terlebih ketika nyawa seseorang sedang dipertaruhkan.
Pelayanan kesehatan seharusnya berdiri di atas nilai kemanusiaan, bukan sekadar aturan administratif.
“Kami rakyat kecil tidak minta banyak. Kami hanya ingin diperlakukan manusiawi. Kalau memang ruangan penuh, tolonglah beri pertolongan darurat dulu. Jangan biarkan kami mencari tempat lain dalam keadaan sekarat,” ucap Fahri penuh harap.
Hingga kini, peristiwa tersebut masih menyisakan tanda tanya besar dan luka mendalam bagi keluarga Wasilah.
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Sabtu (10/10/2025), Kepala Puskesmas Silo 2, dr. Dwi Hepti Wulandari, memberikan jawaban singkat.
“Maaf saya sudah pulang dinas, Bapak. Sedang di luar,” ujarnya singkat.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Puskesmas Silo 2 belum dapat ditemui untuk memberikan keterangan lebih lanjut.
Peristiwa ini menjadi cermin buram sistem pelayanan kesehatan di lapisan bawah, di mana semestinya puskesmas menjadi garda terdepan penanganan darurat bagi masyarakat desa.
Setiap detik dalam situasi kritis bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati. Maka, nyawa manusia tidak seharusnya menunggu ruang kosong.
Masyarakat Karangharjo dan sekitarnya berharap agar Bupati Jember bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Jember turun tangan menindaklanjuti kasus ini.
Mereka menuntut agar tidak ada lagi warga miskin atau masyarakat pelosok yang mengalami nasib serupa hanya karena keterbatasan fasilitas dan lemahnya empati pelayanan.
“Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Kami ingin tenaga medis bisa lebih peka, lebih manusiawi. Karena bagi kami, puskesmas adalah harapan terakhir saat bencana penyakit datang,” tutur seorang warga setempat.
Kisah Wasilah bukan hanya tentang seorang ibu yang sakit, tetapi juga tentang panggilan nurani bagi kita semua — bahwa di balik seragam putih tenaga medis, seharusnya selalu ada hati yang berdenyut karena kemanusiaan. (dik)