JEMBER, memo-pagi.com – Di balik keterbatasan akses jalan, jauh dari pusat permukiman, dan berada di kawasan perkebunan serta lereng pegunungan, SDN Curahtakir 03 di Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyimpan harapan besar bagi masa depan pendidikan anak-anak di wilayah terpencil.
Selama bertahun-tahun, sekolah yang berada di kawasan PTPN XII Kebun Glantangan, Afdeling Kalibajing, Desa Curahtakir tersebut harus menghadapi kondisi bangunan yang memprihatinkan.
Bahkan, tiga ruang kelas dilaporkan sudah dalam kondisi mengkhawatirkan karena bangunannya hampir roboh. Sementara tiga ruang kelas lainnya terancam pohon besar yang tumbuh condong dan melintang ke arah gedung sekolah.
Kini, secercah harapan mulai hadir melalui Program Bantuan Pemerintah Revitalisasi Satuan Pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Direktorat Sekolah Dasar.
Program yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 tersebut mengalokasikan anggaran sebesar Rp1.011.468.834 untuk rehabilitasi dan pembenahan fasilitas pendidikan di UPTD Satuan Pendidikan SDN Curahtakir 03.
Pekerjaan dilaksanakan oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) dengan masa pelaksanaan 120 hari kalender, mulai Agustus hingga Desember 2026.
Adapun pekerjaan meliputi rehabilitasi enam ruang kelas, satu ruang administrasi, serta satu ruang kepala sekolah.
Dari Ancaman Bangunan Roboh Menuju Harapan Ruang Belajar yang Layak
Kepala SDN Curahtakir 03, Rahmatullah, S.Pd., menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas hadirnya program revitalisasi tersebut.
Menurutnya, bantuan pemerintah ini menjadi kesempatan berharga bagi sekolah yang selama ini menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan.
“Terima kasih yang tak terhingga kepada Presiden Republik Indonesia, Kementerian Pendidikan, Bupati Jember, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Jember atas adanya program revitalisasi ini.
Program ini memberikan kesempatan kepada kami untuk memiliki lingkungan sekolah yang lebih baik,” ungkapnya.
Ia menilai, pembangunan tersebut bukan sekadar memperbaiki gedung, melainkan menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan.
“Ini menjadi bukti perhatian pemerintah terhadap dunia pendidikan. Kami berharap pembangunan ini benar-benar bermanfaat bagi anak-anak didik, dewan guru, serta seluruh warga sekolah,” tuturnya.
Siswa Terpaksa Belajar di Teras Rumah Warga
Di balik pembangunan yang sedang berjalan, terdapat perjuangan tersendiri yang harus dijalani para siswa dan tenaga pendidik.
Untuk memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung, pihak sekolah terpaksa memanfaatkan beberapa teras rumah penduduk yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi sekolah.
Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bahwa proses pendidikan di wilayah terpencil tidak selalu berjalan dengan fasilitas yang memadai. Di tengah keterbatasan tempat belajar, semangat para siswa dan guru tetap harus dijaga agar kegiatan pendidikan tidak terhenti.
Rahmatullah menjelaskan, sebelum program revitalisasi dilaksanakan, kondisi tiga ruang kelas sudah sangat memprihatinkan karena bangunannya hampir ambruk.
Sementara tiga ruang kelas lainnya menghadapi ancaman pohon besar yang condong ke arah bangunan sekolah.
“Selain pembongkaran dan pembangunan kembali, pohon besar yang berpotensi membahayakan juga kami tebang. Apalagi posisi sekolah berdekatan dengan kawasan pegunungan dan hutan,” jelasnya.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi potensi bahaya bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Sekolah di Ujung Perbatasan, Akses Jalan Menjadi Tantangan
SDN Curahtakir 03 bukanlah sekolah yang berada di kawasan perkotaan dengan akses mudah. Sekolah ini terletak di Afdeling Kalibajing, wilayah perkebunan PTPN XII Kebun Glantangan, yang berada di kawasan terpencil dan berbatasan dengan Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo.
Jaraknya cukup jauh dari pusat Desa Curahtakir. Kondisi jalan menuju sekolah pun memiliki tantangan tersendiri, bahkan dapat dikatakan cukup ekstrem, terutama ketika musim penghujan tiba.
“Selama ini sekolah kami belum banyak tersentuh pembangunan. Lokasinya berada di kawasan hutan dan lereng pegunungan. Akses jalannya juga cukup sulit, terlebih saat musim hujan,” ungkap Rahmatullah.
Di tengah kondisi geografis tersebut, SDN Curahtakir 03 tetap menjalankan tugas pendidikan dengan segala keterbatasan.
Saat ini sekolah tersebut memiliki total 50 siswa dan didukung tujuh tenaga pendidik.
Jumlah yang tidak besar itu bukan berarti kebutuhan pendidikannya kecil. Justru bagi anak-anak di wilayah terpencil, keberadaan sekolah menjadi salah satu pintu penting untuk membuka kesempatan meraih masa depan yang lebih baik.
Revitalisasi Diharapkan Dongkrak Semangat Belajar dan Prestasi Siswa
Rahmatullah berharap, setelah pembangunan selesai, wajah baru sekolah dapat menjadi energi positif bagi seluruh warga sekolah.
Ruang kelas yang lebih aman, bersih, dan nyaman diharapkan mampu meningkatkan konsentrasi serta semangat siswa dalam mengikuti pembelajaran.
Ia juga menaruh harapan terhadap peningkatan prestasi akademik, termasuk hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA).
“Harapan kami, dengan adanya revitalisasi ini, kegiatan belajar mengajar bisa berlangsung lebih lancar. Prestasi anak-anak juga meningkat, termasuk nilai TKA. Minimal ada perbaikan dan peningkatan dari sebelumnya,” ujarnya.
Tidak hanya kepada siswa, ia juga berharap pembangunan tersebut menjadi momentum untuk meningkatkan kedisiplinan dan tanggung jawab para tenaga pendidik.
Menurutnya, pendidikan tidak hanya berbicara tentang kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga pembentukan karakter, kejujuran, kedisiplinan, serta tanggung jawab.
“Saya berharap dewan guru semakin bersemangat, disiplin, dan mampu memberikan contoh yang baik kepada anak-anak. Terutama dalam hal tanggung jawab dan kejujuran yang menjadi bagian penting dari kecerdasan emosional,” katanya.
Dukungan Orang Tua dan Harapan Masyarakat
Perhatian terhadap peningkatan mutu pendidikan juga datang dari para wali murid. Rahmatullah menyebutkan, sejumlah orang tua bahkan mengusulkan tambahan jam pelajaran, terutama sebagai persiapan menghadapi TKA.
Permintaan tersebut, menurutnya, telah ditindaklanjuti oleh pihak sekolah.
Antusiasme masyarakat terhadap pembangunan juga mulai terlihat. Warga berharap keberadaan gedung dan ruang kelas yang lebih layak dapat memberikan suasana baru bagi anak-anak mereka dalam menempuh pendidikan.
“Semua sangat menginginkan pembangunan ini segera selesai. Masyarakat juga senang dengan adanya gedung baru dan ruang kelas yang nantinya lebih nyaman. Anak-anak bisa belajar dengan tenang, aman, dan penuh semangat,” tuturnya.
Ia berharap perubahan kondisi fisik sekolah nantinya turut meningkatkan kepercayaan masyarakat sehingga semakin banyak orang tua yang bersedia menyekolahkan anak-anaknya di SDN Curahtakir 03.
Bukan Sekadar Bangunan Baru, tetapi Investasi Masa Depan Anak Bangsa
Bagi SDN Curahtakir 03, revitalisasi senilai lebih dari Rp1 miliar ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan fisik.
Di tempat yang jauh dari pusat desa, dengan akses jalan yang menantang dan jumlah siswa hanya 50 anak, kehadiran fasilitas pendidikan yang layak menjadi kebutuhan mendasar.
Sekolah yang aman dan nyaman merupakan salah satu prasyarat agar anak-anak dapat belajar dengan baik. Karena itu, penyelesaian pembangunan tepat waktu, kualitas pekerjaan, serta pemanfaatan anggaran sesuai peruntukannya menjadi hal penting untuk diperhatikan.
Rahmatullah berharap seluruh proses pembangunan dapat berjalan lancar hingga selesai dan memberikan manfaat jangka panjang.
“Mudah-mudahan setelah pembangunan ini selesai, kami semua bisa bekerja lebih baik lagi, meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan, serta ikut mencerdaskan anak bangsa. Guru-guru juga bisa mengajar dengan lebih nyaman, sementara anak-anak semakin bersemangat meraih cita-citanya,” pungkasnya.
Kini, harapan itu sedang dibangun di kawasan terpencil Curahtakir. Bukan hanya melalui dinding dan atap ruang kelas, tetapi melalui kesempatan bagi puluhan anak untuk mendapatkan pendidikan yang lebih layak.
Sebab, keterbatasan geografis semestinya tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk memperoleh hak atas pendidikan yang aman, bermutu, dan memberikan masa depan. (dik)