Banyuwangi memo pagi.com
Dugaan hubungan terlarang yang melibatkan seorang oknum perangkat Desa Songgon Septian dengan seorang perempuan berinisial D yang diketahui merupakan istri sah bapak Fauzi, tengah menjadi perbincangan hangat di masyarakat.
Peristiwa tersebut mencuat setelah keduanya diduga terekam memasuki sebuah hotel di wilayah Genteng saat jam dinas Selasa(23/6/2026)
Berdasarkan informasi yang dihimpun, keduanya datang menggunakan mobil Agya milik Septian. Sebelum menuju hotel, kendaraan milik D Agya warna putih disebut sempat dititipkan di salah satu lokasi penitipan untuk menghindari perhatian publik.
Saat dikonfirmasi di kantor desa, Septian tidak membantah keberadaannya bersama D di hotel tersebut. Namun ia menegaskan bahwa tidak terjadi perbuatan yang melanggar norma maupun hukum.
“Saya memang bersama Ibu D di hotel, tetapi tidak melakukan apa pun. Kami hanya berbincang biasa karna D adalah temen saya kita ngobrol biasa sambil beristirahat dan menunggu seseorang,” ujar Septian saat memberikan klarifikasi.
Septian juga mengaku memilih hotel sebagai lokasi pertemuan karena merasa kurang nyaman apabila bertemu di tempat lain. Ia berharap persoalan tersebut tidak diperbesar dan tidak dipublikasikan secara luas.
“Saya tidak ingin ada pertengkaran dalam rumah tangga saya maupun pihak rumahtangga D akibat persoalan ini,” tambahnya.
Meski demikian, pengakuan tersebut justru memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Sejumlah warga menilai alasan memilih hotel sebagai tempat berdiskusi sulit diterima oleh nalar publik, terlebih keduanya disebut berada dalam satu kamar.
Seorang narasumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa Septian dan D memang kerap terlihat sering berkomunikasi dalam berbagai kesempatan.
“Awalnya kami tidak curiga karena mengira hubungan mereka hanya sebatas pertemanan biasa. Namun setelah muncul informasi mereka masuk hotel bersama, tentu menimbulkan pertanyaan besar. Kalau memang tidak ada hubungan khusus, mengapa harus bertemu di hotel dan berada dalam satu kamar?” ungkap narasumber tersebut.
Kasus ini memicu sorotan masyarakat karena melibatkan seorang aparatur pemerintahan desa yang seharusnya menjaga etika dan integritas sebagai pelayan publik.
Warga berharap adanya klarifikasi yang lebih terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi liar yang dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak D belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. Upaya konfirmasi lanjutan masih akan dilakukan guna memperoleh informasi yang berimbang dari seluruh pihak.
Masyarakat kini menanti penjelasan resmi serta langkah yang akan diambil oleh pihak terkait, mengingat isu ini dinilai berpotensi mencoreng citra pemerintahan desa dan menimbulkan kegaduhan sosial di lingkungan masyarakat.(Tim)