JEMBER, memo-pagi.com – Semangat melestarikan budaya lokal kembali digaungkan melalui gelaran Festival Egrang ke-14 yang diselenggarakan oleh Tanoker.
Festival tahunan yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan budaya masyarakat Kabupaten Jember ini bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga ruang pembelajaran, kreativitas, dan penguatan identitas budaya bagi generasi muda.
Dengan mengusung tema “Ayo Mencintai Rupiah dan Permainan Tradisi Egrang”, festival tahun 2026 hadir membawa semangat kolaborasi antara budaya, pendidikan, ekonomi rakyat, dan transformasi digital.
Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada 1 Agustus 2026, diawali dengan launching festival yang digelar pada Sabtu, 9 Mei 2026 di kawasan Pasar Lumpur, sekaligus memperingati Hari Pendidikan Nasional.
Festival Egrang bukan hanya tentang permainan tradisional. Lebih dari itu, kegiatan ini telah berkembang menjadi gerakan sosial dan pendidikan yang melibatkan sekolah-sekolah, komunitas seni, pemerintah, hingga masyarakat umum.
Sejak tahun 2024, Tanoker bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Jember menjadikan permainan tradisional tari egrang sebagai bagian dari modul ajar di sekolah prototipe.
Dari awalnya hanya melibatkan 12 sekolah, kini partisipasi meningkat menjadi 24 sekolah prototipe dan berbagai komunitas seni budaya. Hal ini menjadi bukti bahwa kesadaran menjaga budaya lokal mulai tumbuh kuat di tengah masyarakat.
Launching festival di Pasar Lumpur juga diharapkan mampu menggairahkan ekonomi masyarakat. Kehadiran lapak kuliner tradisional, kerajinan lokal, hingga aktivitas permainan rakyat seperti polo lumpur, balap bakiak, tarung bantal, dan egrang menjadi daya tarik tersendiri yang mempertemukan budaya dengan pemberdayaan ekonomi warga.
Di tengah modernisasi yang terus berkembang, ruang-ruang seperti ini menjadi penting untuk menjaga denyut ekonomi kerakyatan sekaligus mempererat kebersamaan sosial masyarakat.
Kehadiran Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI, Nezar Patria, menjadi perhatian khusus dalam launching Festival Egrang tahun ini. Dalam kesempatan tersebut, beliau dijadwalkan menyampaikan pidato bertema “Permainan Tradisi di Era Digital”.
Pesan yang dibawa sangat relevan dengan tantangan zaman saat ini, yakni bagaimana budaya lokal tidak sekadar dikenang, tetapi juga didokumentasikan dan diperkenalkan melalui platform digital agar tetap hidup di tengah generasi modern.
Festival ini juga menjadi simbol kuat bahwa pendidikan tidak hanya lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari akar budaya masyarakat.
Anak-anak diajak mengenal nilai perjuangan, keseimbangan, kerja sama, serta cinta tanah air melalui permainan tradisional yang sederhana namun sarat makna. Di tengah dominasi gawai dan hiburan digital, egrang hadir sebagai pengingat bahwa warisan leluhur memiliki nilai luhur yang tak lekang oleh waktu.
Diperkirakan lebih dari seribu peserta dan pengunjung akan hadir dalam launching Festival Egrang ke-14. Mulai dari siswa TK hingga SMA, guru, pegiat seni budaya, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, influencer media, hingga masyarakat umum akan menjadi bagian dari perayaan budaya tersebut. Momentum ini menjadi cermin bahwa pelestarian budaya hanya dapat hidup jika dilakukan bersama-sama, dengan semangat gotong royong dan kepedulian lintas generasi.
Festival Egrang ke-14 Tanoker bukan sekadar acara tahunan, melainkan gerakan kebudayaan yang menghidupkan harapan. Harapan agar anak-anak Indonesia tetap mengenal akar budayanya, masyarakat tetap menjaga harmoni sosial, dan tradisi luhur bangsa tetap berdiri kokoh di tengah perkembangan zaman digital yang terus melaju. (dik)