Menumbuhkan Harapan dari Akar Kehidupan, Tanoker Gelar Pelatihan Social Emotional Learning untuk Wujudkan Wirausaha Muda Inklusif di Jember

JEMBER, memo-pagi.com– Komunitas Tanoker kembali menegaskan komitmennya dalam membangun masyarakat yang inklusif melalui penyelenggaraan Pelatihan Social Emotional Learning (SEL) bertajuk “Akarku” bagi peserta Program KUBIK 2.0 (Kelompok Usaha Bisnis Inklusif). Kegiatan yang dilaksanakan di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Pada Sabtu (18/7/2026).

Merupakan hasil kolaborasi Tanoker bersama NLR Indonesia dan Liliane Fonds sebagai mitra internasional dalam mendorong lahirnya generasi muda yang mandiri, tangguh, dan berdaya.

Tanoker selama ini dikenal sebagai komunitas pemberdayaan masyarakat yang berpusat di Kabupaten Jember. Melalui pendekatan budaya, seni, permainan tradisional, serta pendidikan karakter, Tanoker terus menghadirkan ruang belajar yang inklusif bagi semua kalangan.

Berbagai aktivitas seperti permainan egrang, kelas seni, musik, kuliner tradisional, hingga Festival Egrang menjadi bukti bahwa budaya mampu menjadi jembatan membangun karakter dan masa depan generasi muda.

Pelatihan SEL “Akarku” menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat kapasitas Orang Muda Penyandang Disabilitas (OMD) dan Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) yang berasal dari Kecamatan Silo, Ledokombo, dan Arjasa.

Program ini tidak hanya membekali peserta dengan kemampuan mengenali potensi diri, tetapi juga menanamkan ketahanan mental, keberanian mengambil keputusan, serta kemampuan membangun hubungan sosial sebagai bekal menuju kemandirian ekonomi.

Kegiatan berlangsung penuh kehangatan dan haru. Peserta yang terdiri dari kalangan pemuda, orang tua, hingga penyandang disabilitas mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan antusias.

Suasana yang tercipta menunjukkan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan berkarya tanpa dibatasi oleh kondisi fisik maupun latar belakang.

Dalam sambutannya, Pembina Tanoker, Dr. Suporahardjo, M.Si., memberikan motivasi mendalam kepada seluruh peserta. Ia menegaskan bahwa setiap orang adalah nahkoda bagi kehidupannya sendiri.

Jadilah nahkoda bagi diri sendiri. Jangan membiasakan diri menyalahkan orang lain atas keadaan yang kita alami.

Tetapkan tujuan hidup yang jelas, terus belajar, bangun komunikasi yang baik, serta jadilah pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.

Selama kita memiliki kemauan untuk terus belajar dan berusaha, selalu ada jalan menuju masa depan yang lebih baik, pesannya.

Ia juga mengingatkan bahwa perubahan besar selalu diawali dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Menurutnya, menjadi lebih baik satu persen setiap hari akan membawa perubahan luar biasa dalam perjalanan hidup seseorang.

Sementara itu, Camat Silo yang diwakili oleh Arif Pangayoman menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pelatihan tersebut.

Ia menilai kegiatan seperti ini mampu membangun semangat baru bagi para peserta untuk mengubah tantangan menjadi peluang.

“Kami mengapresiasi Tanoker beserta seluruh mitra yang terus memberikan ruang pembelajaran bagi adik-adik penyandang disabilitas dan penyintas kusta. Yang terpenting adalah semangat untuk terus berkembang.

Setiap orang memiliki kekurangan, tetapi juga memiliki kelebihan yang bisa menjadi kekuatan. Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila mereka tidak berusaha mengubah dirinya sendiri,” ujarnya.

Koordinator Program KUBIK, Sutopo, S.N., menjelaskan bahwa pelatihan Social Emotional Learning merupakan pondasi awal dalam proses pemberdayaan peserta sebelum memasuki pelatihan vokasi dan pengembangan usaha.

Menurutnya, pelatihan difokuskan pada penguatan kesadaran diri, pengenalan potensi, peningkatan rasa percaya diri, serta membangun ketahanan mental sebagai modal utama menuju kemandirian ekonomi.

Beberapa sasaran utama pelatihan meliputi pengenalan dan pengelolaan potensi diri, membangun mental tangguh dalam menghadapi tantangan usaha, meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan beradaptasi di lingkungan sosial maupun dunia kerja, serta menciptakan ekosistem pemberdayaan yang inklusif melalui kolaborasi antara Tanoker Ledokombo dan Perpenca.

Melalui Program KUBIK 2.0, Tanoker bersama NLR Indonesia dan Liliane Fonds berharap lahir semakin banyak wirausaha muda yang tidak hanya mampu berdiri di atas kaki sendiri, tetapi juga menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.

Program ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan tidak sekadar memberikan bantuan, melainkan membangun kepercayaan diri, membuka kesempatan, dan menghadirkan harapan baru bagi setiap individu.

Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki nilai, potensi, dan kesempatan yang sama untuk berkarya. Ketika masyarakat, pemerintah, dan berbagai lembaga bergandengan tangan membangun ruang yang inklusif, maka tidak ada lagi batas yang menghalangi seseorang untuk meraih cita-citanya.

Dari Kecamatan Silo, semangat keberanian, kemandirian, dan kepedulian itu kembali tumbuh, menjadi inspirasi bahwa masa depan yang lebih baik selalu dimulai dari keberanian mengenali akar kekuatan dalam diri sendiri. (dik)