JEMBER, memo-pagi.com– Semangat gotong royong, kekompakan, dan kepedulian terhadap pembangunan desa kembali ditunjukkan oleh masyarakat Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Bersama Lembaga Pemerhati Hukum Indonesia (PHI) Kecamatan Silo, warga secara swadaya membangun jalan makadam sepanjang kurang lebih 4 kilometer yang menjadi akses utama aktivitas masyarakat, khususnya para petani. Senin ( 6/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara bergilir setiap hari tersebut melibatkan sekitar 15 hingga 22 warga. Sebelumnya, masyarakat bersama PHI juga berhasil membangun dua titik jembatan secara swadaya sebagai bentuk kepedulian terhadap infrastruktur desa yang dinilai masih membutuhkan perhatian.
Ketua PHI Kecamatan Silo, Junaidi, mengatakan bahwa pembangunan jalan tersebut lahir dari kesepakatan bersama masyarakat setelah melihat masih banyak ruas jalan yang belum tersentuh pembangunan pemerintah.
“Memang sebagian jalan di Dusun Baban Timur sudah dibangun oleh pemerintah desa. Namun masih banyak ruas jalan yang belum tersentuh pembangunan. Karena itu kami bersama masyarakat berinisiatif melakukan gotong royong dan swadaya membangun jalan makadam sepanjang kurang lebih empat kilometer. Pengerjaannya dilakukan secara bergilir setiap hari agar beban pekerjaan dapat ditanggung bersama,” ujar Junaidi.
Menurutnya, semangat kebersamaan yang terus terjaga menjadi modal utama dalam menyelesaikan pembangunan tersebut.
Setiap hari warga dengan sukarela meluangkan waktu dan tenaga untuk bekerja bersama tanpa mengharapkan imbalan, demi kepentingan seluruh masyarakat.
Antusiasme warga terlihat dari banyaknya masyarakat yang terlibat secara bergantian mulai hari Senin hingga Minggu.
Tercatat puluhan warga dari berbagai kalangan ikut ambil bagian dalam pekerjaan tersebut, sehingga proses pembangunan dapat terus berjalan setiap hari.
Pembangunan jalan ini bukan sekadar memperbaiki akses transportasi, tetapi juga menjadi harapan besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebab mayoritas warga Dusun Baban Timur menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Junaidi menjelaskan, jalan tersebut merupakan satu-satunya akses utama untuk mengangkut hasil panen menuju pasar. Selama kondisi jalan rusak, biaya angkut menjadi lebih mahal, distribusi hasil pertanian terhambat, bahkan harga jual hasil panen sering kali turun karena sulitnya akses kendaraan.
“Kami berharap pembangunan jalan ini segera selesai. Jalan ini merupakan satu-satunya akses ekonomi masyarakat. Mayoritas warga adalah petani yang setiap hari mengangkut hasil panennya melalui jalan ini. Kalau jalannya tetap rusak, hasil pertanian sulit keluar dan akhirnya harga jual menjadi rendah. Karena itu kami memilih bergotong royong agar masyarakat bisa segera menikmati manfaatnya,” tambahnya.
Semangat swadaya yang ditunjukkan masyarakat Dusun Baban Timur menjadi bukti bahwa budaya gotong royong masih tumbuh kuat di tengah masyarakat pedesaan.
Dengan mengedepankan kebersamaan, warga mampu menghadirkan solusi nyata terhadap keterbatasan infrastruktur sambil menunggu pembangunan dari pemerintah.
Aksi sosial tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga dapat diwujudkan melalui kepedulian, persatuan, dan semangat gotong royong masyarakat demi kemajuan desa serta peningkatan kesejahteraan bersama. (dik)