Transformasi Pendidikan Berbasis Cinta Anak, Jember Tunjukkan Wajah Pendidikan Masa Depan yang Humanis dan Digital

JEMBER, memo-pagi.com – Pemerintah Kabupaten Jember kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun dunia pendidikan yang adaptif, kreatif, dan berpihak kepada masa depan generasi muda melalui gelaran Pameran Pendidikan bertema “Transformasi Pendidikan Berbasis Cinta Anak” yang berlangsung selama dua hari, mulai 11 hingga 12 Mei 2026.

Kegiatan yang dipusatkan di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Jember tersebut menjadi ruang kolaborasi besar antar lembaga pendidikan, melibatkan Dinas Pendidikan (Dispendik), Kementerian Agama (Depag), serta Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin). Seluruh jenjang pendidikan turut ambil bagian, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, MA, MTs, hingga SMA se-Kabupaten Jember.

Pameran ini bukan sekadar seremoni tahunan atau ajang memamerkan karya siswa dan guru. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi cerminan nyata bahwa dunia pendidikan di Kabupaten Jember tengah bergerak menuju perubahan besar, yakni pendidikan yang lebih humanis, inovatif, dan selaras dengan potensi lokal daerah.

Berbagai tema strategis diangkat dalam pameran tersebut, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, kelautan, hingga inovasi pembelajaran berbasis digitalisasi yang lahir dari kreativitas para pendidik penuh dedikasi.

Setiap stan menampilkan semangat baru pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga membangun karakter, kreativitas, dan kemampuan adaptasi anak menghadapi perkembangan zaman.

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Nurul Hafid Yasin, S.STP., M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan hasil transformasi pendidikan yang telah dilakukan di Kabupaten Jember.

Menurutnya, pameran pendidikan ini menampilkan empat karya pendidikan unggulan yang disesuaikan dengan kondisi dan potensi daerah, seperti pertanian, perkebunan, serta kelautan.

Selain itu, berbagai inovasi pembelajaran para guru turut dipamerkan sebagai bentuk implementasi pendidikan berbasis cinta anak.

Ia menjelaskan bahwa seluruh jenjang pendidikan dilibatkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari PAUD hingga SMA sederajat.

Namun, karya yang ditampilkan merupakan hasil seleksi terbaik dari masing-masing lembaga pendidikan di seluruh Kabupaten Jember.

“Ini adalah puncak dari proses panjang seleksi karya pendidikan. Semua lembaga sebelumnya telah mengirimkan hasil inovasi mereka untuk diseleksi, kemudian dipilih karya terbaik yang memenuhi kategori pemenang untuk ditampilkan dalam pameran ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia berharap momentum Hardiknas 2026 mampu membangun kepedulian seluruh masyarakat terhadap dunia pendidikan.

Semangat pendidikan berbasis cinta anak diharapkan menjadi pendekatan baru dalam mendampingi generasi muda agar mampu menggali dan mengembangkan potensi terbaik mereka demi masa depan yang lebih cerah.

Salah satu peserta yang mencuri perhatian dalam pameran tersebut adalah SDN Banjarsengon 02. Sekolah ini hadir membawa inovasi pendidikan berbasis digitalisasi yang mengedepankan pembentukan karakter anak melalui teknologi yang bijak dan terarah.

Kepala Sekolah SDN Banjarsengon 02, Guntur Bayu Wibisono, S.Pd. menyampaikan rasa syukur dan bangganya karena sekolah yang dipimpinnya mendapat penghargaan sebagai SD Negeri Terinovatif dari Pemerintah Kabupaten Jember beberapa hari sebelumnya.

Bahkan, pada tahun 2025 sekolah tersebut juga berhasil meraih predikat sekolah terinovatif dalam ajang Innovative Government Award (IGA).

Dalam pameran pendidikan kali ini, SDN Banjarsengon 02 mengusung inovasi berupa jurnal digital Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Program tersebut menjadi solusi atas penggunaan jurnal berbasis kertas yang selama ini dinilai kurang efektif dan sulit terdokumentasi dengan baik.

Menurut Guntur, melalui sistem digital, seluruh aktivitas dan perkembangan kebiasaan positif siswa dapat tersimpan rapi di dalam sistem penyimpanan daring atau drive, sehingga mudah dipantau dan terdokumentasi dalam jangka panjang.

Ia juga menjelaskan bahwa sekolahnya mulai menerapkan konsep kelas digital pada siswa kelas V dan VI. Dalam sistem tersebut, terdapat kelas digital dan kelas reguler.

Kelas digital dirancang dengan konsep pembelajaran yang terintegrasi teknologi dalam setiap proses belajar mengajar.

Para siswa menggunakan Chromebook dan komputer setiap hari untuk mendukung aktivitas pembelajaran.

Bahkan pelaksanaan ujian pun telah dilakukan secara digital menggunakan sistem Computer Based Test (CBT) berbasis aplikasi daring, sehingga siswa tidak dapat membuka halaman lain saat ujian berlangsung.

Menurutnya, digitalisasi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti oleh dunia pendidikan. Justru teknologi perlu diintegrasikan secara sehat dalam proses pembelajaran agar anak-anak memiliki karakter digital yang baik sejak dini.

“Kami berharap semua lembaga pendidikan tidak menganggap digitalisasi sebagai sesuatu yang menakutkan.

Justru kita harus mengintegrasikan digitalisasi dalam proses pembelajaran dan memberikan pendidikan karakter digital kepada anak-anak agar penggunaannya lebih bijak,” ungkapnya.

Transformasi pendidikan berbasis digital yang diterapkan di SDN Banjarsengon 02 ternyata juga mendapat respons positif dari para siswa.

Salah satu siswi mengaku bahwa proses pembelajaran menggunakan digitalisasi terasa lebih mudah dan menyenangkan.

Menurutnya, penggunaan perangkat digital dalam pembelajaran tidak menimbulkan kesulitan.

Bahkan, sistem tersebut membuat kegiatan belajar menjadi lebih praktis dan membantu mengurangi kebutuhan pembelian buku.

Pernyataan sederhana dari seorang siswi itu menjadi gambaran bahwa dunia pendidikan memang sedang bergerak menuju era baru.

Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, sekolah bukan hanya dituntut mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membimbing anak-anak agar mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas, sehat, dan bertanggung jawab.

Pameran Pendidikan Hardiknas 2026 di Kabupaten Jember akhirnya menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan tidak hanya berbicara tentang kemajuan teknologi semata, melainkan juga tentang bagaimana menghadirkan pendidikan yang penuh cinta, memberi ruang tumbuh bagi kreativitas anak, serta menyiapkan generasi yang berkarakter kuat di tengah tantangan zaman modern. (dik)