Baru Delapan Tahun Berdiri, SDS Hidayatul Murid Full Day Ampel Wuluhan Dapat Revitalisasi, 400 Siswa Segera Nikmati Ruang Belajar Layak

JEMBER, memo-pagi.com – Harapan baru dunia pendidikan hadir di Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Meski tergolong sebagai lembaga pendidikan yang masih relatif muda, SDS Hidayatul Murid Full Day terus menunjukkan perkembangan pesat. Dalam kurun waktu sekitar delapan tahun sejak berdiri, sekolah ini telah memiliki kurang lebih 400 siswa-siswi yang terbagi dalam 18 rombongan belajar (rombel). Kamis (5/11/2026).

Di tengah meningkatnya jumlah peserta didik, keterbatasan ruang kelas menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah.

Bahkan, demi memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) tetap berlangsung, sebagian siswa harus mengikuti pembelajaran di luar lingkungan kelas utama.

Kini, harapan untuk menghadirkan lingkungan pendidikan yang lebih layak mulai terwujud melalui Program Bantuan Pemerintah Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Direktorat Sekolah Dasar.

Program yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 tersebut mengucurkan bantuan sebesar Rp1.941.562.508,00 atau sekitar Rp1,94 miliar untuk SDS Hidayatul Murid Full Day.

Pelaksanaan pembangunan dipercayakan kepada Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP), dengan waktu pengerjaan selama 150 hari kalender, mulai 4 Agustus 2026 hingga 3 Januari 2027.
400 Siswa, 18 Rombel, Pembelajaran Harus Dibagi di Tiga Titik.

Kepala SDS Hidayatul Murid Full Day, Muhammad Syai’ful Fuadi, S.Pd.I., mengungkapkan bahwa perkembangan jumlah siswa menjadi kebanggaan sekaligus tantangan bagi pihak sekolah.

Dengan jumlah sekitar 400 peserta didik dan 18 rombongan belajar, kebutuhan ruang kelas yang memadai menjadi sesuatu yang sangat mendesak.

Menurutnya, sebelum pembangunan revitalisasi berlangsung, kegiatan belajar mengajar terpaksa dibagi ke beberapa lokasi.

Siswa kelas 3, 4, dan 5 harus belajar di luar sekolah. Sementara itu, kegiatan belajar kelas 1 tersebar di empat titik di luar ruang kelas utama. Adapun siswa kelas 2 dan 6 masih dapat melaksanakan pembelajaran di dalam kelas.

Kondisi tersebut tentu bukan situasi ideal bagi anak-anak yang membutuhkan suasana belajar aman, nyaman, dan kondusif.

“Alhamdulillah, kami mendapatkan bantuan revitalisasi ini. Mudah-mudahan pembangunan bisa segera selesai. Sebab, sekondusif apa pun pembelajaran di luar sekolah, tentu hasilnya tidak akan maksimal dibandingkan ketika anak-anak belajar di ruang kelas sendiri,” ungkap Muhammad Syai’ful Fuadi.

Dibangun 10 Ruang Kelas, Toilet Terpisah hingga Penataan Lingkungan
Melalui program revitalisasi tersebut, SDS Hidayatul Murid Full Day mendapatkan sejumlah fasilitas pembangunan, meliputi 10 ruang kelas, dua toilet yang diperuntukkan bagi siswa putra dan siswi putri, satu ruang kantor kepala sekolah, serta penataan lingkungan sekolah lengkap dengan pemasangan paving.

Pembangunan ini diharapkan tidak sekadar menambah jumlah ruang belajar, tetapi juga menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan.

Kepala sekolah berharap, setelah pembangunan rampung, seluruh peserta didik dapat menikmati suasana belajar yang lebih baik tanpa harus berpindah-pindah lokasi.

“Harapan kami, setelah revitalisasi selesai, anak-anak bisa menikmati lingkungan baru dan ruang kelas baru. Dengan fasilitas yang lebih baik, semoga semangat belajar mereka semakin meningkat dan mampu meraih prestasi dalam bidang apa pun,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, Bupati Jember Muhammad Fawait, serta Dinas Pendidikan Kabupaten Jember atas perhatian terhadap pembangunan sarana pendidikan.

“Syukur Alhamdulillah. Terima kasih sebesar-besarnya atas bantuan dan perhatian pemerintah. Dengan adanya revitalisasi ini, anak-anak kami bisa belajar dengan tenang, aman, nyaman, dan senang,” tambahnya.

Guru, Ruang Kelas Lebih Layak, Pembelajaran Diharapkan Semakin Berkualitas
Dampak revitalisasi juga dirasakan sebagai harapan baru oleh tenaga pendidik. Salah satu guru SDS Hidayatul Murid Full Day, Lucky Hartanti, menjelaskan bahwa kondisi ruang kelas sebelumnya memang belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan pembelajaran yang ideal.

Menurutnya, sekat-sekat antarruang kelas sebelumnya belum menggunakan dinding permanen sehingga kondisi ruang belajar belum sesuai dengan standar ruang kelas sebagaimana mestinya.

“Alhamdulillah, dengan adanya program revitalisasi ini, sekat-sekat ruangan sudah dibangun menggunakan dinding permanen. Sekarang ruang kelas menjadi lebih layak dan sesuai standar,” jelas Lucky Hartanti.

Ia berharap pembenahan fasilitas tersebut dapat memberikan dampak nyata terhadap kualitas kegiatan belajar mengajar.

Sebab, ruang kelas yang nyaman bukan hanya menunjang aktivitas guru dalam menyampaikan materi, tetapi juga membantu siswa lebih fokus dan bersemangat dalam menyerap pelajaran.

“Kami sebagai tenaga pendidik tentu berharap pembelajaran semakin baik. Mudah-mudahan dengan fasilitas yang lebih memadai ini, kami bisa semakin maksimal mendidik dan mencetak anak-anak yang berprestasi serta memiliki akhlakul karimah,” imbuhnya.

Revitalisasi Bukan Sekadar Bangunan, tetapi Investasi Masa Depan Anak
Program revitalisasi SDS Hidayatul Murid Full Day menjadi gambaran bahwa perkembangan lembaga pendidikan harus diimbangi dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai.

Bagi sekolah yang baru sekitar delapan tahun berdiri dan kini telah menampung kurang lebih 400 siswa, bantuan senilai Rp1,94 miliar tersebut menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas lingkungan pendidikan.

Namun, keberhasilan program tidak hanya diukur dari berdirinya bangunan baru. Ketepatan waktu pengerjaan, kualitas konstruksi, kesesuaian spesifikasi, serta transparansi penggunaan anggaran juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan oleh pelaksana pembangunan.

Sebab, dana APBN yang digelontorkan merupakan uang negara yang harus dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, yang paling diharapkan bukan sekadar berdirinya ruang-ruang kelas megah, melainkan lahirnya generasi yang lebih cerdas, berprestasi, berkarakter, dan berakhlakul karimah.

Bagi 400 siswa SDS Hidayatul Murid Full Day, revitalisasi ini bukan hanya tentang bangunan baru. Ini adalah tentang hadirnya harapan, kenyamanan, dan kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik. (dik)